Bahassa Indonesia & Teknik Penulisan Ilmiah


Konsep Dasar Bahasa Indonesia

 Dua cara berkomunikasi :

1. Secara Verbal

Dilakukan dengan menggunakan alat atau media bahasa :

• Lisan

• Tulis

2. Secara Non verbal

Dilakukan dengan menggunakan media selain bahasa :

• Simbol (tanda lalin)

• Isyarat (lambaian tangan)

• Kode (morse)

• Bunyi-bunyian (sirine, kentongan)

Bahasa berfungsi sebagai alat :

– Berkomunikasi

– Mengekspresikan diri

– Berintegrasi & beradaptasi sosial

– Kontrol sosial

Ragam Bahasa

Ragam bahasa yaitu variasi bahasa yang terjadi karena pemakaian bahasa.

Ragam bahasa dapat dibedakan menjadi 5 :

Berdasar media Pengantarnya

– Ragam lisan

– Ragam tulis

Berdasarkan situasi pemakaiannnya

– Ragam formal

– Ragam semiformal

– Ragam nonformal

Contoh :

* Ragam formal :   Saya, Anda, Saudara, Bapak, Ibu, Saudara.

* Ragam semiformal : Aku, Kamu, Bung, Mas, Dik, Mbak

* Ragam nonformal ; Gue, Ane, Lu, Neng, Situ

Laras Bahasa

Laras bahasa yaitu kesesuaian bahasa yang dipakai dengan fungsi pemakai. Dan  bahasa dengan ciri tertentu yang dipakai (difungsikan) untuk keperluan tertentu.

Macam-macam laras bahasa :

– Laras ilmiah

– Laras sastra (puisi, cerpen, novel, dll.)

– Laras jurnalistik (berita, editorial, iklan, dll.)

– Laras hukum

– Laras kedokteran

– dll.

Ciri Bahasa Indonesia dalam Penulisan Karya Ilmiah:

1. Menggunakan ragam formal

2. Menggunakan kalimat efektif, ciri-ciri :

a. Bentuk gramatikal singkat

b. Menghindari bentuk berlebihan

c. Ada kesepadanan antara struktur gramatik dengan alur pikir

3. Menghindari makna ambigu (ganda)

4. Menggunakan kata atau istilah yang bermakna lugas –> menghindari makna kias

5. Menghindari penonjolan persona untuk menjaga objektivitas isi tulisan

6. Ada keselarasan atau keruntutan antar proposisi dan antar alinea

 

Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar

– Bahasa yang baik apabila maknanya dapat dipahami oleh komunikan dan ragamnya sudah sesuai dengan

situasi.

– Bahasa yang benar adalah bahasa dengan ragam formal yang mengikuti kaidah baku

– Bahasa yang baik dan benar adalah bahasa yang maknanya dapat dipahami dan sesuai dengan situasi

pemakainya serta tidak menyimpang dari kaidah yang telah dibakukan.

Tata Ejaan dan Pilihan Kata

Ejaan dan Mengeja

Ejaan :  Seperangkat aturan/kaidah pelambangan bunyi bahasa, pemisahan, penggabungan dan penulisannya dalam suatu bahasa

Mengeja : kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata.

Ejaan = rambu-rambu yang harus dipatuhi

Mengeja = pelafalan sesuai rambu yang ditentukan

Ruang Lingkup EYD

* Pemakaian huruf

Membicarakan masalah yang mendasar dari suatu bahasa :

– Abjad (a,b, c,… z — A, B, C, … Z)

– Vokal (a, i, u, e, o — A, I, U,E, O)

Diftong (gabungan dua vokal) –> ai, au, oi –> menciptakan bunyi yang berbeda dengan lafal  aslinya.

Contoh:

saudara, bantai (bantay), kacau (kacaw), amboi (amboy) –> diftong

mulai, namai, semua –> bukan diftong (diucapkan ai)

– Konsonan (b, c, d, … — B, C, D,…)

Diagraf (gabungan konsonan) –> kh, ng, ny, sy

Contoh: khusus, ngilu, anyam, syair

– Pemenggalan

1. Pemenggalan kata dasar

2. Pemenggalan imbuhan

3. Pemenggalan kata gabungan

4. Pemenggalan khusus

– Nama diri

Penulisan nama diri harus mengikuti EYD, kecuali ada pertimbangan khusus.

* Penulisan Huruf

  – Huruf Kapital

1. Dipakai untuk huruf pertama awal kalimat

2. Dipakai untuk huruf pertama petikan langsung

3. Dipakai untuk huruf pertama ungkapan yang berhubungan dengan Tuhan (Yang Mahakuasa, Quran, Weda, hamba-Mu,..)

4. Dipakai untuk huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan yang diikuti nama (Raden …, Haji …,Nabi…, dll.)

5. Dipakai untuk huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang/pengganti nama orang/instansi/nama tempat (Presiden Yudoyono, Menteri Pertanian, Gubernur Bali).

6. Dipakai untuk huruf pertama unsur nama orang (Budi Luhur)

7. Dipakai untuk huruf pertama nama bangsa, suku bangsa dan bahasa (Melayu, Tionghoa,..)

Contoh: ….suku Bugis, …bahasa Jepang keInggris-Inggrisan, menJawakan bahasa Indonesia–>X

8. Dipakai untuk huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya dan peristiwa sejarah

9. Dipakai untuk huruf pertama nama khas dalam geografi (Teluk Bayur, Gunung Semeru, Danau Toba,

10. Dipakai untuk huruf pertama semua unsur nama negara, badan/lembaga pemerintahan, ketatanegaraan,serta nama dokumen resmi (Undang-Undang Dasar 1945, Departemen Agama RI, dll)

Contoh: Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia menurut undang-undang, perbuatan itu melanggar hukum

11. Dipakai untuk huruf pertama unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan/lembaga (Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial)

12. Dipakai untuk huruf pertama semua kata nama buku, majalah, surat kabar dan judul karangan.

13. Dipakai untuk huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan (Bapak, Ibu, Paman, Kakak, dll.)

Contoh: Ibu-ibu mengunjungi Ibu Febiola

14. Dipakai untuk huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, sapaan (Jend., Sdr., M.M., dll.)

15. Dipakai untuk huruf pertama kata ganti anda

– Huruf Miring

1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, surat kabar yang dikutip dalam karangan.( majalah Prisma, tabloid Nova)

2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan.(dia muka menipu tapi ditipu).

3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk kata nama ilmiah atau ungkapan asing (nama ilmiah padi adalah oriza sativa).

* Penulis Kata

1 Kata Dasar

2. Kata Turunan

3. Bentuk Ulang

4. Gabungan Kata

5. Kata Depan di, ke, dari

6. Kata Sambung si, sang

7. Singkatan dan akronim

8. Angka & Lambang Bilangan

* Penulisan Unsur Serapan

– Unsur serapan diambil dari bahasa daerah dan bahasa asing

– Berdasar integritasnya, unsur serapan dibagi menjadi:

a. Belum sepenuhnya terserap kedalam bahasa Indonesia, pengucapannya masih mengikuti cara asing.

Misal:  reshuffle

shuttle cock

b. Pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia

Misal:

haemoglobin  menjadi  hemoglobin

authentic  menjadi  autentik

* Pemakain Tanda Baca

1. Tanda titik (.)

2. Tanda koma (,)

3. Tanda titik koma (;)

4. Tanda titik dua (:)

5. Tanda hubung (-)

6. Tanda pisah () –> panjangnya dua kali tanda hubung

7. Tanda elipis (…)

8. Tanda tanya (?)

9. Tanda seru (!)

10. Tanda kurung ((…))

11. Tanda kurung siku ((…))

12. Tanda petik (“…”)

13. Tanda petik tunggal ((‘…’))

14. Tanda garis miring (/)

15. Tanda penyingkat atau apostrop (‘)

Pilihan Kata/Diksi

* Diksi

– Penggunaan kata dalam berbagai kesempatan harus memperhitungkan ketepatan dan kesesuaiannya.

– Tepat–> makna, logika, maksud

– Sesuai–> konteks sosial

* Fungsi Diksi

– Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal.

– Membentuk gaya ekspresi yang tepat sehingga dapat diterima dengan tepat oleh pembaca.

– komunikasi berjalan baik

– Suasana tepat

– Mencegah perbedaan tafsiran

* Syarat ketepatan pemilihan kata :

– Makna Denotatif & Konotatif

– Kata Umum & Khusus

– Kata Konkret dan Abstrak

– Pemakaian kata penghubung berpasangan

KALIMAT

–  Kalimat merupakan bentuk bahasa atau wacana yang digunakan sebagai sarana untuk menuangkan dan menyusun gagasan secara terbuka agar dapat dikomunikasikan kepada orang lain (Mustakim, 1994).

–  Kalimat adalah bagian ujaran yang mempunyai struktur minimal subjek dan predikat, mempunyai

intonasi dan bermakna (Finoza, 2003).

Unsur Kalimat

Unsur kalimat adalah unsur sintaksis (jabatan kata/peran kata) yang terdiri dari:

– Subjek (S)

– Predikat (P)

– Objek (O)

– Pelengkap (Pel)

– Keterangan (Ket)

Subjek

• Bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, sosok (benda), semua hal, atau masalah yang menjadi  pangkal/pokok pembicaraan.

   • Subjek biasanya berisi Kata/frasa, klausa, frasa verbal.

• Dapat pula dikenali dengan cara memakai kata tanya siapa (yang), apa (yang) kepada Predikat.

• Jika jawaban tidak logis maka tidak ada Subyek

     Contoh:

• Di sini melayani resep obat generik.

• Bagi siswa sekolah dilarang masuk.

Predikat

• Predikat menyatakan :

– keadaan yang dilakukan oleh S

– Sifat, situasi, status, ciri atau jati diri S

– Jumlah sesuatu yang dimiliki S

• Bagian kalimat menghubungkan antar S dengan O dan K

• Dapat berupa kata/frasa berkelas verba, adjektifa, numeralia (kt. Bilangan), dan nomina (benda)

  Contoh ;

               – Ibu sedang tidur siang.

– Putrinya cantik jelita.

– Kota Tanggulangin dalam acaman lumpur.

– Lusi seorang penyanyi.

Objek

• Bagian kalimat yang melengkapi P.

• Objek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa nominal, atau klausa.

– Nomina = buku

– Frasa Nomina = buku sejarah

– Klausa = buku sejarah pertempuran bangsa Melayu

• Letak O selalu di belakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang memerlukan O

Contoh :

– Harmanto membuat …

– Sistem analisis merancang …

Membuat, merancang –> verba transitif –> P yang memerlukan O

• JikaP diisi oleh verba INTRANSITIF maka O tidak diperlukan.

• Sehingga kehadiran O dalam kalimat dikatakan Tidak Wajib Hadir.

Contoh:

– Nenek mandi.

– Ayah tidur.

– Tamunya pulang.

mandi, tidur, pulang –> tidak perlu O

• Obyek dapat menjadi Subyek bila dipasifkan

– Harmanto menulis buku ini

– Buku ini ditulis oleh Harmanto

Pelengkap

• Jika kalimat ada O maka biasanya Pel terletak setelah (di belakang) O.

• Pelengkap dapat pula diisi oleh frasa adjektiva dan frasa preposisional

– Frasa adjektiva = benar sekali, sudah tidak layak

– Frasa preposisional = di, ke, dari sampai, selama, sepanjang

Keterangan (Ket)

• Bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal tentang bagian kalimat yang lainnya.

• Unsur Ket dapat berfungsi untuk menerangkan S, P, O, dan Pel.

• Dimanakah posisi keterangan itu?

Bisa di awal, tengah, dan akhir kalimat.

POLA KALIMAT DASAR

• Hanya merupakan acuan/patron untuk membuat berbagai tipe kalimat.

Fungsi/Tipe                 S           P         O           Pel            Ket

S-P                            V           V         –             –                –

S-P-O                        V           V         V            –                –

S-P-Pel                      V           V          –            V               –

S-P-Ket                     V           V          –             –               V

S-P-O-Pel                 V           V          V            V

S-P-O-Ket                V           V          V            –               V

S-P-O-Pel-Ket          V           V          V           V               V

KALIMAT EFEKTIF

Kalimat efektif ialah kalimat yang benar, jelas, dan mempunyai makna yang mudah dipahami oleh pembaca secara tepat.

Ciri-ciri kalimat efektif :

(1) kesepadanan/kepadanan struktur (kesatuan/koherensi),

(2) keparalelan/kesejajaran bentuk,

(3) ketegasan/penekanan kata,

(4) kehematan kata,

(5) kepaduan gagasan,

(6) kelogisan bahasa,

(7) Kevariasian

 

1. Kesepadanan Struktur Bahasa

• Kesepadanan ialah keseimbangan antara gagasan dan struktur bahasa yang digunakan.

• Kesepadanan kalimat dibangun melalui kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.

• Kesatuan menunjuk bahwa dalam satu kalimat hendaknya hanya ada satu ide pokok.

• Satu ide pokok tidak diartikan sebagai ide tunggal, tetapi ide yang dapat dikembangkan ke dalam  beberapa ide penjelas.

Beberapa Ciri Kesepadanan :

• Mempunyai struktur jelas.

• Kejelasan subjek dan predikat dapat dilakukan dengan tidak menggunakan kata depan: di, dalam, bagi, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya yang ditempatkan di depan subjek.

• Tidak terdapat subjek ganda.

• Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang

contoh :  Dalam pembangunan sangat berkaitan dengan stabilitas politik.

2. Kepararelan atau Kesejajaran Bentuk

• Keparalelan atau kesejajaran bentuk adalah terdapatnya unsur-unsur yang sama derajatnya, sama pola atau susunan kata dan frasa yang dipakai di dalam kalimat.

• Bila bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomina.

• Demikian pula bila menggunakan bentuk-bentuk lain.

contoh :

– Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah pengecatan tembok, memasang lampu, pengujian sistem pembagian air, dan menata ruang.

– Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara wajar

3. Ketegasan atau Penekanan Kata

• Merupakan perlakuan khusus pada kata tertentu dalam kalimat sehingga berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan.

• Ada beberapa cara penekanan dalam kalimat :

1. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu pada awal kalimat

2. Melakukan pengulangan (repetisi)

3. Melakukan pengontrasan kata kunci

4. Menggunakan partikel penegas

4. Kehematan Kata

– Kehematan adalah upaya menghindari pemakaian kata yang tidak perlu.–> kata menjadi padat berisi.

– Dapat dilakukan dengan cara :

– Menghilangkan pengulangan subyek

– Menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata

– Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat

– Kehematan dengan tidak menjamakkan kata yang sudah jamak

   Contoh ;

– Karena ia tak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.

– Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa Presiden datang.

Mestinya…

– Karena tak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.

– Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa Presiden datang.

5. Kesatuan Gagasan

– Kesatuan gagasan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat.

Contoh:

– Berdasarkan agenda sekretaris manajer personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru.

6. Kelogisan

– Kelogisan adalah terdapatnya arti kalimat yang logis/masuk akal dan penulisannya sesuai EYD.

Contoh:

– Karena lama tinggal di asrama putra, anaknya semua laki-laki

– Kepada ibu Intha, waktu dan tempat kami persilakan.

– Jalur ini terhambat oleh iring-iringan jenazah.

KEVARIASIAN

Variasi Kalimat

– Variasi kalimat disebut juga Parafrasa.

– Penulis harus berusaha menghindarkan pembaca dari keletihan dan kebosanan.

– Dapat dilakukan dengan cara-cara:

1. Kalimat aktif <–> Kalimat pasif

2. Stilistika

3. Elips atau Pelesapan

4. Penggabungan

5. Permutasian

6. Sinonim

7. Ekuatif

8. Meletakkan kata modal

9. Menggunakan Frasa

* Kalimat aktif <–> Kalimat pasif

Pengubahan dengan cara:

– Obyek kalimat aktif menjadi subyek pada kalimat pasif dan subyek pada kalimat aktif menjadi  pelengkap pada kalimat pasif. Predikat diisi oleh verba berawalan (me N-)

– Pelengkap pada kalimat pasif menjadi subyek pada kalimat aktif, dan subyek menjadi Obyek. Predikat diisi oleh verba berawalan (di-)

   Contoh :   Sekretaris itu mengambilkan atasannya air minum

S                    P                O           Pel

                  Atasannya diambilkan air minum oleh sekretaris itu                         S              P              O                   Pel

* Stilistika

– Stilistika yaitu Predikat dan Obyek pada kalimat aktif menjadi Subyek pada kalimat pasif.

     Contoh : 

                    Rudi membahas hasil penelitian tersebut pada seminar itu

S          P                            O                         K

                   Pembahasan hasil penelitian itu disajikan Rudi pada seminar itu

S                            P          O            K

* Elips/Pelesapan

– Pelesapan dilakukan pada bagian tertentu dalam suatu kalimat atau bagian itu diganti dengan bentuk yang lebih pendek tanpa mengubah makna kalimat.

     Contoh :

– Kamu uruslah lahan itu dengan baik!

– Uruslah lahan itu dengan baik

– Pengamatan terhadap teroris dilakukan selama dua bulan

– Kegiatan itu dilakukan selama dua bulan

* Penggabungan

– Ide yang berkaitan erat dapat dinyatakan dalam kalimat majemuk.

     Contoh:

– Penyeleksian data dilakukan pada bulan pertama.

– Pengolahan data dilakukan pada bulan berikutnya.

– Penyeleksian dan pengolahan data dilakukan berturut-turut pada bulan pertama dan berikutnya.

* Permutasian

– Permutasian yaitu mengedepankan fungsi-fungsi sintaktis tertentu tanpa mengubah makna kalimat.

– Fungsi sintaktis adalah unsur-unsur dalam kalimat yang menempati fungsi SPOPelK.

     Contoh kalimat tunggal pasif dengan empat faktorial :

Penelitian tentang ikan dilaksanakan di daerah Pandeglang selama tiga bulan

S                         P                        K1                         K2

– Susunan dasar kalimat ini adalah SPK1K2

     – Permutasiannya SPK1K2 menjadi :

– S P K2 K1

Penelitian tentang ikan dilaksanakan selama tiga bulan di daerah Pandeglang

– S K1 P K2

Penelitian tentang ikan di daerah Pandeglang dilaksanakan selama tiga bulan

– S K2 P K1

Penelitian tentang ikan selama tiga bulan dilaksanakan di daerah Pandeglang

* Sinonim

– Sinonim yaitu mengganti kata atau istilah tertentu dengan kata atau istilah lain yang mempunyai makna sama.

     Contoh: – Hasil penelitian itu belum dapat dirasakan faedahnya oleh masyarakat.

– Hasil penelitian itu belum dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

* Ekuatif

– Variasi Ekuatif dilakukan dengan cara mengubah status Predikat dan Obyek menjadi Subyek dengan menambah kata adalah.

      Contoh :

Kondisi perekonomian sekarang menyebabkan banyak karyawan yang di-PHK.

Penyebab banyaknya karyawan yang di-PHK adalah kondisi perekonomian sekarang

* Meletakkan kata modal

– Kata modal untuk menyatakan kepastian: pasti, pernah, tentu, dst

     Contoh:

– Pernah ia mengatakan pada saya tentang hal itu.

– Pasti Adi mau menolong Ibu tua itu.

– Kata modal untuk menyatakan keragu-raguan: barangkali, kira-kira, tampaknya, rasanya, mungkin,dst

      Contoh:

– Sebenarnya Adi bukan anak yang bodoh.

– Tampaknya hujan akan segera turun.

* Menggunakan Frasa

Menurut para ahli bedah, sulit untuk menentukan diagnosa jika keluhan hanya berupa sakit perut.

– Anak-anak yang kurang mendapat perhatian cenderung melakukan perbuatan yang tidak diinginkan.

ALINEA / PARAGRAF

      Satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Tetapi dimungkinkan juga alinea yang hanya satu kalimat.

Contoh :

Otakku penuh, badanku lemah tak bertenaga. Aku bingung, tak tahu harus bagaimana menghadapinya. Aduh…, bagaimana aku menghadapi hari esok?

Malam semakin larut, aku masih tetap duduk disini memikirkan semuanya.

Berdasarkan fungsinya, struktur alinea diklasifikasikan dalam 2 macam :

1. Kalimat topik/kalimat pokok

    Ciri-ciri Kalimat Topik :

    􀂄 Mengandung permasalahan yang potensial untuk dirinci dan diuraikan lebih lanjut;

    􀂄Merupakan kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri;

􀂄 Mempunyai arti yang cukup jelas tanpa harus dihubungkan dengan kalimat lain;

􀂄 Dapat dibentuk tanpa bantuan kata sambungan

2. Kalimat penjelas/pendukung

    Ciri-ciri Kalimat Penjelas :

    􀂄 Sering merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri (dari segi arti);

􀂄 Arti kalimat ini kadang-kadang baru jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lain dalam satu alinea;

􀂄 Pembentukannya sering memerlukan bantuan kata sambung dan frasa transisi;

􀂄 Isinya berupa rincian, keterangan, contoh serta data tambahan lain yang bersifat mendukung kalimat topik.

Persyaratan Paragraf / Alinea :

􀂄 Perlu kesatuan

􀂄 Perlu kepaduan.

􀂄 Kesatuan –> membicarakan satu gagasan

􀂄 Kepaduan –> seluruh kalimat saling terkait, mendukung gagasan tunggal

􀂄 Berguna untuk memudahkan dalam memahami pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam suatu karangan.

Kepaduan… :

􀂄 Kepaduan/Koherensi alinea akan terwujud jika aliran kalimat berjalan mulus, lancar serta logis.

􀂄 Kepaduan dapat dilakukan dengan cara repetisi, kata ganti / frasa pengganti, serta kata sambung dan frasa penghubung.

Jenis Alinea :

􀂄 Menurut posisi kalimat topiknya :

– alinea deduktif

– alinea induktif

– alinea deduktif-induktif

– alinea penuh kalimat topik

􀂄 Menurut sifat isinya

– alinea persuasif

– alinea argumentatif

– alinea naratif

– alinea deskriptif

– alinea ekspositoris

􀂄 Menurut fungsinya dalam karangan

– alinea pembuka

– alinea pengembang

– alinea penutup

Pengembangan Alinea

Pengembangan Alinea Berkaitan dengan :

►Posisi kalimat topik

►Fungsi alinea

►Sifat informasi yang akan disampaikan (persuatif, argumentatif, naratif, deskriptif, atau ekspositoris)

►Metode Definisi

►Metode Proses

►Metode Contoh

►Metode Sebab-akibat/ akibat-sebab

►Metode Umum-khusus/ khusus-umum

►Metode Klasifikasi

►Metode Perbandingan

Tema, Topik, Judul Tulisan Dan Kerangka Karangan

         Tema dapat berarti “sesuatu yang telah diuraikan”. Berasal dari bahasa Yunani : Thitenai yang berarti “menempatkan” atau “meletakkan”.

• Pengertian tema dapat dilihat dari dua sudut :

– Sudut karangan yang telah selesai

– Sudut proses penyusunan sebuah karangan

         Topik yaitu pokok pembicaraan/pokok permasalahan. Bersifat lebih khusus/konkret karena pada dasarnya merupakan penjabaran lebih lanjut dari tema.

• Ciri-ciri topik :

– Bersifat umum dan belum terurai

– Harus sesuatu yang nyata/tidak boleh abstrak

        Judul merupakan penjabaran/perincian dari topik. Bersifat lebih spesifik dan telah mengandung permasalahan yang lebih jelas atau lebih terarah. Topik dapat menjadi judul karangan.

• Syarat-syarat judul yang baik :

– Harus relevan/bertalian dengan tema

– Harus “provokatif”/menarik

– Harus singkat

            Kerangka Karangan merupakan rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan, berfungsi untuk mengarahkan. Dibentuk dengan menggunakan sistem tanda atau kode tertentu.

• Macam kerangka karangan :

  – Kerangka topik

     • Terdiri atas kata, frasa, dan klausa

• Tidak memerlukan tanda akhir titik karena tidak memerlukan kalimat lengkap

– Kerangka kalimat

     • Unsur-unsurnya berupa kalimat lengkap

• Bersifat resmi

• Memerlukan tanda akhir titik

Pola Penyusunan Kerangka Karangan :

• Pola Alamiah –> berdimensi ruang dan waktu

– Urutan ruang –> pola penguraian yang menggambarkan keadaan suatu ruang

– Urutan waktu –> berdasarkan urutan kejadian/kronologis

• Pola Logis

– Klimaks – antiklimaks

– Sebab – akibat

– Pemecahan masalah

– Umum – khusus

Penulisan Karangan Ilmiah

       Karangan ilmiah adalah karya tulis yang didalamnya berisi gagasan ilmiah, disusun dengan menggunakan bahasa ilmiah, berdasarkan hasil penyelidikan/fakta-fakta ilmiah, dapat dibuktikan secara empiris, dan ditulis dengan teknik penulisan ilmiah. Penyusunan dan penyajian karya didahului oleh studi pustaka dan studi lapangan.

Manfaat Penyusunan Karangan Ilmiah :

►Penulis akan terlatih mengembangkan ketrampilan membaca yang efektif.

►Penulis akan terlatih mengembangkan hasil bacaan dari berbagai sumber bacaan.

►Penulis akan dapat meningkatkan ketrampilan dalam mengorganisasikan fakta secara jelas dan sistematis.

►Penulis akan memperoleh kepuasan intelektual

►Penulis turut memperluas cakrawala ilmu pengetahuan.

Sikap Ilmiah :

►Ingin tahu

►Kritis

►Terbuka

►Obyektif

►Menghargai orang lain

►Berani mempertahankan kebenaran

►Menjangkau ke depan

Ciri-ciri Karangan Ilmiah :

►Menyajikan fakta obyektif

►Penulisan cermat

►Tidak mengejar keuntungan pribadi

►Sistematis

►Tidak emotif

►Selalu didukung oleh data

►Memuat kebenaran

►Tidak melebih-lebihkan sesuatu

Bahasa Tulis Ilmiah merupakan gabungan dari ragam bahasa tulis dan ragam bahasa ilmiah.

►Ragam bahasa tulis ;

– Kosa kata yang digunakan dipilih dengan cermat

– Pembentukan kata dilakukan dengan sempurna

– Dibentuk dengan struktur yang lengkap

– Paragraf dikembangkan dengan satu dan padu

►Ragam bahasa Ilmiah ;

– Cendikia

       – Mampu digunakan secara tepat untuk mengungkapkan hasil berpikir logis.

       – Kecermatan pemilihan kata/diksi

– Lugas

      – Diungkapkan secara langsung

– Jelas

      – Tidak menggunakan kalimat yang bertele-tele

– Formal

      – Adanya kelengkapan unsur wajib (subyek dan predikat)

–  Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar

– Bertolak dari gagasan

      – tidak melenceng

– Obyektif

      – Tidak emosional dan memihak

– Konsisten

      – penggunaan istilah dan penyebutan

TEKNIK PENULISAN KARYA ILMIAH

A. Mengutip

Pinjaman pendapat dari seseorang, baik yang berupa tulisan dalam buku, majalah, surat khabar, jurnal, bentuk tulisan lainnya, serta dalam bentuk lisan, seperti hasil pidato dan sebagainya.

B. Catatan Kaki

C. Membuat daftar rujukan

D. Membuat tabel, grafik dan gambar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s